Buffalo Itu Kertas: Belajar Bahasa Lewat Terjemahan Berbasis Asosiasi



Istri saya baru saja cerita sesuatu, dan saya bingung harus menertawakan siapa.

Jadi, ibu mertua saya mengajar les bahasa Inggris. Suatu hari, ada muridnya yang sedang berlatih mengerjakan soal. Lalu percakapannya kira-kira seperti ini:

Murid A: “Buffalo iku artine opo seh?”

Murid B: “Kertas.”

Murid A: “Seng nggenah tah!”

Murid B: “Iyo! Kertas buffalo. Kan berarti kertas.”

Saya sempat diam setelah mendengarnya. Bukan karena tidak paham, tapi karena logikanya memang masuk akal. Nah, itu yang bikin saya tambah bingung.

Cache di Otak Anak Itu Kuat Banget #

Kalau pernah belajar bahasa asing, mungkin kamu pernah mengalami ini juga. Otak kita tidak menyimpan kata serapi kamus. Rasanya lebih seperti folder yang isinya sudah berdesakan.

Begitu mendengar kata “buffalo”, otaknya langsung mencari asosiasi. Yang muncul duluan bukan hewan besar berbulu di padang rumput Amerika Utara, tapi… kertas buffalo. Wajar juga, itu yang paling sering dia temui. Buat dia, ya itu yang paling relevan hehe.

Para linguis dan peneliti bahasa menyebut fenomena ini association-based translation, atau terjemahan berbasis asosiasi.1

Sederhananya, manusia sering menerjemahkan kata lewat ingatan yang paling kuat menempel, bukan lewat kamus. Ingatan itu belum tentu tepat, tapi rasanya bisa meyakinkan sekali.

Orang Dewasa Juga Bisa Begini #

Sebelum senyum-senyum lalu bilang, “ya wajar, anak kecil”, tahan dulu. Saya juga pernah salah paham soal kata, dan mungkin kamu juga pernah.

Misalnya “deadline”. Kalau belum pernah mendengar kata itu di konteks kerja, dead berarti mati dan line berarti garis. Jadi, garis kematian? Kalau ditebak dari potongan katanya, ya ada logikanya. Artinya dalam pekerjaan tentu bukan itu.

Ada juga yang mengira “overtime” berarti waktu ekstra untuk istirahat. Over itu lebih, time itu waktu. Ya, waktu lebih untuk kerja, sayangnya haha.

Nah, yang ini pengalaman saya sendiri. Dulu saya mengira “hardware” itu nama merek alat tulis karena dekat rumah ada toko bernama “Toko Hardware”. Yang dijual memang peralatan keras. Sampai SMA saya masih agak rancu. Silakan tertawa, saya juga sekarang ikut ketawa.2

Kok Bisa Otak Begitu? #

Ini bukan bug evolusi, sepertinya memang begini cara otak menghemat tenaga.

Otak lebih suka jalur cepat daripada harus memeriksa setiap kemungkinan. Saat mendengar kata, ia seperti bertanya ke cache-nya: “pernah ketemu di mana, ya? Konteksnya apa?” Asosiasi yang paling cepat muncul sering langsung dipakai.3

Anak yang menjawab “kertas” itu bukan bodoh. Pengalaman bahasanya saja belum banyak, dan sejauh ini “buffalo” paling sering ia temui dalam konteks kertas. Asosiasinya ya kertas buffalo.

Kalau dipikir-pikir, berapa banyak orang dewasa yang melakukan hal serupa tanpa sadar? Saya sendiri bisa jadi salah satunya.

Bisa jadi ada asumsi yang kita pegang karena itulah asosiasi pertama yang pernah masuk ke kepala. Belum tentu kebenaran, mungkin cuma cache lama yang belum sempat di-update.

Soal Jawaban “Kertas” Tadi #

Jawaban tadi bikin saya kepikiran soal konteks. Satu kata bisa punya beberapa arti, jadi kalimat di sekitarnya membantu kita menebak mana yang dimaksud. Asosiasi pertama juga belum tentu benar, meski rasanya familiar. Itu bisa terjadi waktu belajar bahasa, bahkan saat mengambil keputusan. Tapi ini sudah mulai berat untuk cerita yang awalnya cuma soal buffalo.

Dan kalau sedang mengajar, mungkin kita tidak perlu buru-buru menganggap anaknya tidak paham. Respons “seng nggenah tah!” tadi bisa dimengerti, tapi logika si anak juga masuk akal dari pengalamannya. Tinggal diluruskan: “Iya, ada kertas buffalo. Kalau arti bahasa Inggrisnya, buffalo itu kerbau.” Begitu saja, tidak perlu bikin anak merasa bodoh.


Istri saya cerita sambil menahan tawa, saya ikut ketawa juga. Tapi habis itu saya malah mikir: berapa banyak hal yang saya “terjemahkan” dari asosiasi pertama, lalu tidak pernah saya pertanyakan lagi? Banyak kayaknya. Saya belum tahu berapa. Hehe.


  1. Istilah yang lebih sering muncul di literatur adalah lexical association atau associative meaning. Tapi “terjemahan berbasis asosiasi” terasa lebih pas untuk menggambarkan apa yang terjadi saat seseorang menerjemahkan kata berdasarkan ingatan konteks, bukan makna dasar. ↩︎

  2. Sampai sekarang masih belum sepenuhnya move on dari fakta ini. ↩︎

  3. Ini ada kaitannya dengan konsep priming dalam psikologi kognitif, di mana paparan terhadap satu stimulus mempengaruhi respons terhadap stimulus berikutnya. Otak yang pernah “dipriming” dengan kertas buffalo akan lebih cepat mengasosiasikan buffalo dengan kertas dibanding dengan hewan. ↩︎