Kelonggaran Aturan dan Konsekuensinya

28 April 2026 oleh Faiq Najib


Nganu, jadi pertengahan April lalu saya mengetik pesan yang lumayan panjang di grup WhatsApp mahasiswa, tempat saya mengajar sebagai dosen. Isinya tentang program GitHub Education, sebuah inisiatif dari GitHub yang memberikan akses gratis ke berbagai tools pengembangan bagi mahasiswa dan pengajar aktif.

Di antara paket manfaatnya ada GitHub Copilot. Asisten AI yang sudah cukup dikenal di kalangan developer sebagai partner ngoding, dengan autocomplete, code review, sampai langsung mengerjakan sebagian kodingan kita.

Pesan itu saya tutup dengan kalimat yang, kalau dipikir-pikir ulang, cukup menggambarkan bagaimana saya memandang peran saya sebagai pengajar:

Semoga rekan-rekan bisa amanah ya. Karena sudah saya anggap dewasa. Kalau ternyata berlawanan dengan itu, ya sudah jadi bukan tanggung jawab saya lagi. 😊

Saya menutupnya dengan “salam dari rekan dosen genzi angkatan pertama,” sambil tertawa sendiri mengetiknya hahaha.

Tulisan ini adalah refleksi dari momen itu.

Yang Saya Lakukan (dan Alasannya) #

Intinya saya menyarankan mahasiswa untuk mendaftarkan email kampus mereka ke GitHub Education. Prosesnya tidak rumit: daftar, verifikasi status mahasiswa aktif, dan mereka bisa mengakses berbagai layanan secara gratis. Termasuk GitHub Copilot dengan 300 kuota prompt per bulan beserta akses ke beragam model AI di dalamnya.

Satu catatan yang saya tekankan: GitHub Copilot ini bukan alat untuk mengerjakan tugas secara penuh dilepas ke AI. Ini untuk dijadikan partner belajar, biar tidak seperti saya dulu yang harus marathon forum StackOverflow atau video tutorial dari orang Indonesia, Barat, sampai orang India hahaha.

Hanya itu. Tidak ada larangan tertulis, tidak ada konsekuensi formal, tidak ada sistem pengawasan. Hanya sebuah imbauan, dan kepercayaan.

Ini yang saya sebut kelonggaran: bukan aturan yang dihapus, tapi batasan yang diserahkan ke kesadaran masing-masing.

Saya Juga Pernah Jadi Mahasiswa #

Sebelum saya terkesan terlalu idealis soal kepercayaan ini, izinkan saya jujur sebentar: saya tahu persis apa yang mungkin dilakukan sebagian mahasiswa dengan akses ini.

Karena saya pernah ada di posisi mereka.

Waktu kuliah S2 dulu, dosen pembimbing saya memberikan kebebasan yang luar biasa dalam mengerjakan tesis. Tidak banyak yang diharuskan, tidak banyak yang dibatasi. Intinya: kamu yang menentukan arahnya, saya yang membimbing1.

Dan apa yang saya lakukan dengan kebebasan itu? Saya menundanya. Berkali-kali. Berbulan-bulan. Dengan berbagai alasan yang kalau dipikir ulang sekarang, semuanya terasa seperti dalih yang lemah hehe~

Bukan karena tidak mampu. Tapi karena ketika batasan dikendurkan, godaan untuk menggunakan ruang itu untuk hal lain menjadi sangat nyata. Webtoon dibaca habis. Gim dimainkan sampai larut. Tesis? Nanti dulu.

Jadi ketika saya memberikan akses Copilot kepada mahasiswa hanya dengan sebuah imbauan, saya tidak buta terhadap kemungkinannya. Saya justru sangat sadar.

Lalu Kenapa Tetap Dilakukan? #

Karena menurut saya, menolak memberikan akses bukan berarti menutup akses.

GitHub Copilot sudah ada. AI sudah ada. Mahasiswa yang penasaran pasti akan menemukan caranya sendiri, dengan atau tanpa arahan dari pengajarnya. Perbedaannya hanya satu: apakah mereka menemukannya dengan sedikit pemahaman tentang batasannya, atau tanpa pemahaman sama sekali.

Ada kalimat yang saya tulis di pesan itu yang ingin saya elaborasi:

Kita tidak digantikan AI sepenuhnya — setidaknya belum untuk saat ini. Tapi kita ada kemungkinan untuk digantikan seseorang yang bisa memaksimalkan AI di kehidupan, terutama pekerjaan kita.

Ini bukan nakut-nakutin. Ini kenyataan yang sudah mulai terasa di lapangan. Saya melihatnya sendiri: dua orang dengan kemampuan teknis yang setara, tapi satu lebih mahir menggunakan AI sebagai tool. Hasilnya beda jauh dari segi kecepatan dan kualitas output.

Kalau saya bisa memberikan mahasiswa satu langkah awal untuk memahami bagaimana bekerja berdampingan dengan AI — itu lebih bernilai daripada menutup aksesnya atas dasar kekhawatiran yang, bagaimanapun, tidak sepenuhnya bisa dicegah.

Kelonggaran dan Konsekuensinya #

Tapi kembali ke inti: memberikan kelonggaran itu bukan tanpa taruhan.

Ketika saya berkata “sudah saya anggap dewasa”, saya bukan sedang melempar tanggung jawab. Saya sedang memindahkan tanggung jawab, secara sadar, ke tangan yang bersangkutan. Dan itu berbeda.

Memindahkan tanggung jawab ke orang yang sudah cukup dewasa untuk menerimanya adalah bentuk penghormatan, bukan kelalaian.

Konsekuensinya berlaku dua arah.

Bagi mahasiswa yang menggunakannya dengan baik — sebagai teman belajar, sebagai alat eksplorasi konsep, sebagai cara mempercepat pemahaman — manfaatnya nyata. Mereka akan punya headstart yang tidak kecil ketika masuk dunia kerja.

Bagi yang memilih menggunakannya sebagai jalan pintas — mengerjakan tugas tanpa memahami, menyerahkan semuanya ke AI tanpa refleksi — konsekuensinya juga nyata. Hanya saja tidak langsung terasa. Biasanya baru terasa ketika menghadapi situasi yang membutuhkan pemahaman yang sesungguhnya: wawancara kerja, problem solving di lapangan, atau saat harus memodifikasi kode yang mereka sendiri tidak paham dari mana asalnya.

Dan saya tidak bisa menjaga mereka dari konsekuensi itu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena itu bagian dari proses belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Tentang Menjadi Pengajar yang Belum Terlalu Tua #

Ada hal yang sedikit menggelikan dari momen itu. Saya menyebut diri sendiri “dosen genzi angkatan pertama,” dan itu terasa akurat sekaligus sedikit absurd hahaha.

Karena jujurnya, jarak antara pengalaman saya sebagai mahasiswa dan posisi saya sekarang sebagai pengajar tidak terlalu jauh. Saya masih ingat betul bagaimana rasanya duduk di sisi yang satunya: kurang tidur, setengah paham, dan sesekali mencari jalan pintas.

Mungkin itu yang membuat saya lebih memilih memberikan kepercayaan daripada larangan. Bukan karena naif, tapi karena saya tahu bahwa larangan jarang benar-benar mengubah perilaku. Yang mengubah perilaku adalah konsekuensi yang dialami sendiri, dan kalau beruntung, sedikit pemahaman yang datang sebelum konsekuensi itu tiba.

Jadi ya, saya memberikan kelonggaran itu. Dengan mata terbuka, dan dengan kesadaran bahwa hasilnya tidak sepenuhnya dalam kendali saya.

Semoga rekan-rekan bisa amanah. 🙏

Sekian. Salam.


  1. Saya pernah menulis lebih panjang tentang pengalaman kuliah S2 itu, kalau ada yang penasaran hehe. ↩︎