<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <channel>
    <title>go on Blogfolio Najib</title>
    <link>https://najib.id/tags/go/</link>
    <description>Recent content in go on Blogfolio Najib</description>
    <generator>Hugo -- gohugo.io</generator>
    <language>id-ID</language>
    <copyright>This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright>
    <lastBuildDate>Wed, 15 Apr 2026 00:00:00 +0000</lastBuildDate><atom:link href="https://najib.id/tags/go/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
    <item>
      <title>Migrasi Legacy PHP ke Go: Kenapa, Bagaimana, dan Pelajarannya</title>
      <link>https://najib.id/writing/2026/legacy-php-to-go-migration/</link>
      <pubDate>Wed, 15 Apr 2026 00:00:00 +0000</pubDate>
      
      <guid>https://najib.id/writing/2026/legacy-php-to-go-migration/</guid>
      <description>Saya pernah berada di posisi di mana codebase PHP sudah kepenuhan — fitur baru makin susah ditambah, bug makin sering muncul, dan setiap deploy terasa seperti melempar koin. Bukan karena PHP jelek, tapi karena sistem yang dibangun bertahun-tahun tanpa arsitektur yang jelas akhirnya menyusahkan dirinya sendiri.
Nganu, jadi tulisan ini bukan &amp;ldquo;Go lebih baik dari PHP&amp;rdquo; atau &amp;ldquo;PHP sudah mati&amp;rdquo;. Bukan. Tulisan ini catatan pengalaman saya melakukan migrasi sistem backend dari PHP (CodeIgniter 3 dan Laravel) ke Go, berdasarkan proyek nyata yang saya kerjakan.</description>
    </item>
    
  </channel>
</rss>
